Lompat ke konten
Home » Askep Kanker Rektum

Askep Kanker Rektum

Kanker rektum adalah jenis kanker yang tumbuh dibagian rektum, yang mana merupakan saluran paling ujung bagian usus besar.

Klasifikasi Kanker Rektum

metode pengkalsifikasian menurut duke:

Stadium 0

Belum menembusnya sel malignant terhadap membran basal dari mukosa kolon ataupun rektum.

Stadium I

Sel malignant sudah menembus membran basal hingga lapisan kedua atau juga kedua dari lapisan dinding kolon namun belum menyebar keluar dari didinding rektum.

Stadium II

Sel malignant sudah menmebus ke jaringan serosa serta penyebaran sudah mulai keluar dari dinding rektum serta ke jaringan sekitar, akan tetapi belum menyebar pada kelenjar getahh bening.

Stadium III

Penyebaran sel malignant pada kelenjar getah bening yang tersekat namun belum menyebar terhadap organ yang lainnya.

Stadium IV

Penyebaran sel malignant sudah menyerang pada organ tubuh lainnya.

Etiologi

Adapun faktor yang diduga menjadi penyebab kanker rektum sebagai berikut:

  • Kebiasaan diet rendah serat
  • Lemak yang berlebihan
  • Adanya polip pada bagian usus
  • Radang pada saluran pencernaan
  • Memiliki riwayat kanker sebelumnya
  • Riwayat kanker rektum pada keluarga
  • Gaya hidup tidak sehat
  • Usia diatas 50 tahun

Proses perubahan sel normal menjadi sel kanker disebut transformasi malignant, memiliki 3 tahapan proses yaitu inisiasi, promosi dan progresi, yaitu:

Inisiasi (Carcinogen)

Pada tahap ini terjadi perubahan dalam bahan genetik sel yang memicu sel menjadi ganas. Perubahan ini disebabkan oleh status karsinogen berupa bahan kimia, virus, radiasi atau sinar matahari yang berperan sebagai inisiator dan bereaksi dengan DNA yang menyebabkan DNA pecah dan mengalami hambatan perbaikan DNA. Perubahan ini mungkin dupulihkan melalui mekanisme perbaikan DNA atau dapat mengakibatkan mutasi selular permanen. Mutasi ini biasanya tidak signifikan bagi sel – sel sampai terjadi karsinogenesis tahap kedua.

Promosi (C0-carcinogen)

Pemajanan berulang terhadap agen menyebabkan ekspresi informasi abnormal. Pada tahap ini suatu sel yang telah mengalami insisi akan berubah menjadi ganas. Tahap promosi merupakan hasil interaksi antar fakto kedua dengan sel yang terinisiasi pada tahap sebelumnya. Faktor kedua sebagai agen penyebabnya disebut complete carcinogen karena melengkapi tahap insisi dengan tahap promosi. Agen promosi bekerja dengan mengubah informasi genetik dalam sel, meningkatkansintesis DNA, meningkatkan salinan pasangan gen dan merubah pola komunikasi antarsel. Pada masa antara inisiasi dan promosi merupakan kunci konsep dalam pencegahan kanker, karena bila tahap ini dilakukan pencegahan pemaparan karsinogen ulang seperti makanan berlemak, obesitas, rokok terbentuknya formasi noplastik.

Progresi (Complete Carcinogen)

Pada tahap ini merupakan tahap akhir dari terbentuknya sel kanker atau karsinogenesus. Sel – sel yang mengalami perubahan bentuk selama inisiasi dan promosi kini melakukan perilaku maligna. Sel – sel ini sekarang menampakan suatu kecenderungan untuk menginvasi jaringan yang berdekatan (bermetastasis).

Manifestasi Klinis

Sebagian orang dengan asimtomatis mengalami jangka waktu yang panjang dan hanya memeriksaakan kesehatannya bila sudah terjadi perubahan pada kebiasaan BAB atau perdarahan di rektum. Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus di lokasi kanker tersebut. Berikut beberapa gejala yang sering terjadi pada seseorang dengan kanker rektum:

  • Perubahan kebiasaaan defekasi
  • Pasae darah dalam feses gejala paling umum kedua
  • Anemia tanpa diketahui penyebabnya
  • Anoreksia
  • Penuruann berat badan tanpa alasan
  • Keletihan
  • Mual dan muntah – muntah
  • Usus bessar tidak terasa kosong seluruhanya setelah BAB
  • Feses menjadi lebih sempit (seperti pita)
  • Perut sering terasa kembung atau keram perut
  • Gejala yang dihubungkan dengan lesi rektum adalah: ecakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konnstipasi dan diare bergantian (uumnya konstipasi), serta feses berdarah.

Pertumbuhan pada sigmoid atau rektum dapat mengenai radiks saraf, pembuluh limfe, atau vena menimbulkan gejala pada tungkai atau perenium, hemoroid, nyeri pinggang bagian bawah, keinginan defekasi, atau sering berkemih dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat – alat tersebut. Semua Kanker rektum dapat menyebabkan ulserasi, perdarahan, obstruksi bila membesar atau invasi menembus dinding usus dan kelenjar – kelenjar regional, terkadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses peritoneum.

Tumor pada rektum dan kolon asenden dapat tumbuh sampai besar sebelum menimbulkan tanda – tanda obstruksi karena lumennya lebih besar daripada kolon desenden dan dindingnya lebih mudah melebar. Perdarahan biasanya sedikit atau tersamar. Bilamana karsinoma rektum menembus sedikit ke daerah ileum akan terjadi obstruksi usus halus dengan pelebaran bagian proksimal dan timbul nusea atau vomitus. Pertimbangan gerontologi, insiden karsinoma kolon dan rektum meningkat sesuai usia. Kanker ini biasanya ganas pada lansia, gejala sering tersembunyi yaitu: keletihan hampi selalu ada akibat anemia defisiensi besi primer, nyeri abdomen, obstruksi, tenesmus, dan perdarahan rektum.

Pengkajian Pasien dengan Kanker Rektum

Aktivitas/Istirahat

Gejala Kelemahan atau keletihan

Sirkulasi

Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada pengerahankerja

Tanda:Perubahan pada TD

Integritas Ego

Gejala: Menyangkal diagnosis, perasaan tidakberdaya, putusasa.tidak mampu, tidakbermakna, rasa bersalah. kehilangan kontrol,depresi.

Eliminasi

Gejala: perubahan pada pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi. Perubahan eliminasi urinarius, nyeri saat saat berkemis, hematuria, sering berkemih.

Tanda: perubahan pada bising usus, distensi abdomen.

Makanan/cairan

Gejala: kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak). Anoreksia, mual/muntah. Intoleransi makanan. Perubahan pada berat badan, berkurangnya masa otot.

Tanda: Perubahan pada kelemababan/turgor kulit, edema.

Neurosensori

Gejala: Pusing

Pernapasan:

Gejala: Merokok (hidup dengan seseorang yang merokok). Pemajanan abses

Nyeri/Kenyamanan

Gejala: Nyeri bervariasi

Kemaanan

Gejala: Pemajanan pada kimia toksisk, karsinogen, pemajanana mataharai yang terlalu lama.

Tanda: demam, ruam kulit, ulserasi.

Seksualitas

Gejala: Masalah seksual, dampak pada hubungan, perubahan tingkat kepuasan.

Interaksi Sosial

Gejala: Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung.

Riwayat perkawinan, masalah tentang fungsi/tanggung jawab peran.

Penyuluhan/pembelajaran

Geala: Riwayat kanker pada keluarga.

Riwayat pengobatan: Pengobatan sebelumnya dan pengobatan yang diberikan.

Pemeriksaan Diagnostik Kanker Rektum

  1. Fecal occult blood test, pemeriksaan darah samar feses di bawah mikroskop
  2. Colok dubur (rectal toucher) ditemukan darah dan lendir tonus sfingter ani keras lembek, mukosa kasar, kaku biasanya dapat digeser, ampula rectum kolaps kembung terisi feses atau tumor yang dapat teraba atau tidak.
  3. Barium enema, pemeriksaan serial sinar x pada saluran cerna bagian bawah, sebelumnya pasien diberikan cairan barium ke dalam rektum.
  4. Endoskopi (protoskops, sigmoidoscopy atau colonoscopy), dengan menggunakan teropong melihat gambaran rektum dan sigmoid adanya polip atau daerah abnormal lainnya dalam layar monitor. Protoskopi untuk mendeteksi kelainan 8-10 cm dari anus (polip rektum, hemoroid, karsinoma rektum).
  5. Sigmoidoskopi atau kolonoskopi adalah test diagnostik utama digunakan untuk mendeteksi dan melihat tumor dan biopsy jaringan.
  6. Biopsi, merupakan tindakan pengambilan sel atau jaringan abnormal, serta dilakukan pemeriksaan di bawah mikroskop untuk mengidentifikasi matastase dan menilai reseklabilitas.
  7. Jumlah sel-sel darah untuk evaluasi anemia. Anemia mikrositik, ditandai dengan sel-sel darah merah yang kecil, tanpa terlihat penyebab adalah indikasi umum untuk test diagnostik selanjutnya untuk menemukan kepastian kanker rektum.
  8. Test Guaiac pada feces untuk mendeteksi bekuan darah di dalam feces, karena semua kanker rektum mengalami perdarahan intermitten.
  9. CEA (carcinoembryogenic antigen)
  10. Digital rectal examination (DRE).
  11. Pemeriksaan kimia darah alkaline phosphatase dan kadar bilirubin dapat meninggi, indikasi telah mengenai hepar. Tes laboratorium lainnya meliputi serum protein, kalsium, dan kreatinin.
  12. Barium enema
  13. X-ray dada untuk deteksi metastase tumor ke paru – paru
  14. CT (Computed Tomography) Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI), atau pemeriksaan ultrasonic dapat digunakan untuk mengkaji apakah sudah mengenai organ lain melalui perluasan langsung atau dari metastase tumor.
  15. Whole-body PET Scan Imaging Sementara ini adalah pemeriksaan diagnostik yang paling akurat untuk mendeteksi kanker rektum rekuren (yang timbul kembali).
  16. Pemeriksaan DNA Tinja

Diagnosis Keperawatan Kanker Rektum

  1. Nyeri kronis D.0078
  2. Ketidaksimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
  3. Diare
  4. Konstipasi

Tempat Diskusi

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *